Story

Tangis dari Kamar Sebelah Itu Membuatku Takut Mati

EA
Selasa, Mei 26, 2026
0 Komentar
Beranda
Story
Tangis dari Kamar Sebelah Itu Membuatku Takut Mati

ILUSTRASI. Penanganan medis

Tangis terdengar dari kamar sebelah ruang perawatan yang saya tempati. Raungan itu kian ramai, silih berganti memecah sunyi lorong rumah sakit.

Suara lirih itu menembus dinding pemisah. Saya membatin, penghuni kamar di sebelah sedang dilanda duka. Ada seseorang yang baru saja kehilangan orang tercinta.

Kematian memang tidak dapat ditebak. Ia bukan teka-teki, melainkan kepastian yang sewaktu-waktu menghampiri siapa saja.

Tiba-tiba suasana duka itu menghantam lubuk hati. Otak saya bekerja keras memikirkannya. Ketakutan saya terhadap kematian mendadak menjadi-jadi.

Keberadaan saya di rumah sakit bukan tanpa sebab.

Beberapa hari sebelumnya, tubuh saya mulai memberi tanda. Saat berjalan, keseimbangan terasa goyah. Langkah tidak lagi kokoh. Ketika berbicara, kata-kata keluar tidak sejelas biasanya.

Rabu pagi, 13 Mei, saat hendak bersiap berangkat kerja, istri saya menatap dengan wajah khawatir.

“Cara ngomongta beda,” katanya pelan.

Bukan hanya bicara yang berubah. Saat berjalan, salah satu kaki saya terasa sulit menopang tubuh.

Pagi itu istri saya berangkat lebih dulu ke sekolah tempatnya mengajar menggunakan ojek online. Biasanya, sayalah yang mengantarnya.

Saya tetap memaksa berangkat kerja. Namun di atas motor, keseimbangan tubuh makin bermasalah. Ketakutan mulai muncul.

Saya akhirnya membelokkan motor menuju rumah sakit terdekat di kawasan Jalan Hertasning.

Saya masuk ke IGD.

Setiba di sana, saya diminta berbaring di ranjang. Sejumlah pertanyaan tentang keluhan dilontarkan petugas medis.

Tak lama kemudian, dokter menyatakan saya mengalami vertigo. Padahal, sejak awal saya sudah menjelaskan bahwa gejala yang saya rasakan mengarah pada stroke ringan.

Cairan injeksi ranitidine masuk ke tubuh saya. Tak lama kemudian saya tertidur.

Siang harinya saya terbangun dan diperbolehkan pulang.

Namun sesampainya di indekos, ada kegelisahan yang tak hilang. Saya tidak puas dengan hasil diagnosis itu.

Insting saya mengatakan ada sesuatu yang lebih serius.

{next}

Malamnya, istriku bersama adikku membawa saya ke stroke center di Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD) Dadi, di Jalan Lanto Daeng Pasewang.

Sayangnya, saat tiba di IGD, kami terkendala administrasi. Dalam satu hari, BPJS tidak bisa digunakan di dua rumah sakit berbeda. Kami diminta menunggu hingga berganti hari.

Dengan langkah lelah, kami pun memilih pulang.

Keesokan malamnya kami kembali lagi. Kali ini penanganan berlangsung cepat. Kepala saya menjalani CT scan. Setelah itu saya dipindahkan ke ruang perawatan VIP karena kamar kelas satu penuh.

Saya bersyukur. Ruangan itu memberi privasi lebih. Keluarga pun lebih nyaman mendampingi tanpa bercampur dengan pasien lain.

Empat hari tiga malam saya berada di sana. Silih berganti keluarga, sahabat, dan teman datang menjenguk. Mereka datang hanya untuk memastikan kondisi saya membaik. Di tengah rasa takut dan cemas, kehadiran mereka menjadi penguat yang tak ternilai.

Di rumah sakit itu pula saya sadar, kesehatan sering kali baru terasa berharga saat tubuh mulai memberi peringatan.

Karena itu, jagalah kesehatan sebelum terlambat. Tubuh punya batas. Pola hidup sehat, istirahat cukup, dan makanan yang baik bukan sekadar nasihat lama, melainkan cara sederhana untuk menjaga hidup tetap berjalan sebagaimana mestinya.

Penulis blog

Tidak ada komentar

Berkomentarlah dengan bijak dan sopan. Bila Anda ingin memberikan saran, kritik, dan masukan yang membangun, dengan senang hati Kami persilakan. Terima Kasih.