![]() |
| Geng Motor |
Masih terngiang di ingatan jelang sore menuju malam, ketika lantunan shalawat berkumandang dari corong pengeras suara masjid, ibuku selalu menakut-nakuti tentang Parakang..
Sosok makhluk mistik yang dipercaya sebagian masyarakat Bugis dan Makassar di Sulawesi Selatan.Tujuannya agar saya harus berada di dalam rumah. Ketakutan imajiner itu bergelayut di masa kecil.
Kini, ketakutan itu bukan lagi sekadar imajinasi, melainkan sudah menjadi sesuatu yang riil: kebrutalan geng motor di Kota Makassar. Kawanan bermotor ini kerap menghantui malam dan menebarkan rasa takut di tengah warga.
Rasa aman terasa begitu mahal di kota yang memiliki slogan Sekali Layar Terkembang, Pantang Biduk Surut ke Pantai tersebut.
Ancaman serius itu terlihat dari aksi perkelahian antarkelompok hingga penyerangan terhadap warga yang tengah berkumpul di pinggir jalan. Dalam aksinya, mereka membawa senjata tajam seperti parang, badik, hingga busur lengkap dengan anak panahnya.
Yang lebih memprihatinkan, perilaku nekat yang sudah melanggar norma sosial itu didominasi kalangan remaja. Tindakan mereka tak lagi bisa dipandang sebatas kenakalan, tetapi sudah mengarah pada kriminalitas.
{next}Pertanyaannya, apa yang sebenarnya melatarbelakangi perilaku brutal tersebut?
Untuk memahaminya, persoalan ini tidak cukup dilihat hanya sebagai kenakalan remaja semata. Ada dorongan untuk mencari pengakuan, menunjukkan eksistensi, dan memperoleh tempat di lingkungan pergaulan mereka.
Kurang bijak jika seluruh kesalahan ditimpakan kepada remaja yang sedang mencari jati diri tanpa mempertanyakan apakah ruang sosial di kota ini masih cukup ramah bagi mereka. Apakah para remaja itu masih memiliki tempat tumbuh selain jalanan?
Bisa jadi, minimnya ruang sosial yang sehat membuat mereka melampiaskan pencarian identitas melalui kelompok pergaulan di jalanan. Di sisi lain, peran orang tua juga sangat dibutuhkan untuk membangun komunikasi dua arah agar remaja tidak mencari pengakuan dengan cara yang salah.
EA
