Pulau Onrust Travel

Pulau Onrust dan Kisah yang Tak Pernah Benar-benar Hilang

EA
Minggu, Mei 10, 2026
0 Komentar
Beranda
Pulau Onrust
Travel
Pulau Onrust dan Kisah yang Tak Pernah Benar-benar Hilang

Pulau Onrust 

Kapal kayu tradisional itu baru saja lepas dari dermaga penyeberangan Kamal Muara. Suara mesin kapal meraung memecah pagi saat lambung kayu mulai bergerak pelan membelah perairan pesisir utara Jakarta.

Di sisi kanan, rumah-rumah kayu milik warga tampak berdiri rapat di pinggir pantai. Perkampungan pesisir itu memanjang mengikuti garis laut, sementara di sisi kiri hamparan hutan mangrove tumbuh lebat di tepian perairan.

Setelah melewati jalur perairan sempit di kawasan pesisir, kapal kayu yang saya tumpangi mulai memasuki laut terbuka. Tak lama kemudian, kapal melintas di bawah jembatan PIK yang membentang di atas perairan.

Haluan kapal terus membelah lautan. Sesekali badan kapal bergoyang dihantam ombak.

Di atas kapal, empat pria duduk di geladak sambil membawa peralatan pancing. Beberapa penumpang tampak sibuk bercengkrama.

Seorang perempuan, warga salah satu gugusan pulau di Kepulauan Seribu, hendak pulang ke rumahnya. Sebagian lainnya memilih diam menikmati perjalanan sambil memandang laut.

Angin laut terasa menyengat kulit. Setelah melewati jembatan PIK, suasana kontras mulai terlihat. Gedung-gedung pencakar langit berdiri jauh di kejauhan, berbeda dengan perkampungan pesisir yang baru saja ditinggalkan.

Di beberapa titik perairan, bagan ikan tampak berdiri di tengah laut. Nahkoda kapal sudah memahami alur laut yang dilintasinya. Sorotan matanya tampak awas. 

{next}

Nahkoda berwajah brewok itu berdiri di balik kemudi kapal. Matanya tajam mengawasi deretan bagan dan perahu nelayan di sekitarnya.

Ia sesekali tersenyum memperlihatkan deretan giginya.

Pria brewok itu sesekali melambaikan tangan ke arah nelayan yang berpapasan di tengah laut. Perahu-perahu kecil tampak melintas di antara deretan bagan yang tersebar di perairan.

Tangannya tetap menggenggam kemudi. Sesekali ia memutar kemudi perlahan ke kiri dan ke kanan. Tak butuh GPS. Pengalamanlah yang menjadi pedomannya. 


Raungan mesin perlahan mengecil dan akhirnya diam. Di depan, dermaga Pulau Cipir mulai terlihat. Namun, dermaga itu bukan tujuan akhir perjalanan. Kapal hanya singgah sejenak untuk menurunkan penumpang.

Tali kapal ditambatkan ke besi dermaga. Setelah penumpang tujuan Pulau Cipir turun, kapal kayu tradisional itu kembali bergerak menuju Pulau Onrust.

Perjalanannya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 10 menit. Tak butuh waktu lama untuk mencapai Pulau Onrust dari Pulau Cipir.

Dermaga Pulau Onrust terlihat semakin dekat. Kapal yang saya tumpangi akhirnya tiba di tujuan. Tali pun ditambatkan. Untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di pulau yang masih menyimpan banyak peninggalan arkeologi dan bangunan masa kolonial Belanda. 

{next}

Nama 'Onrust' sendiri diambil dari bahasa Belanda yang berarti 'Tidak Pernah Beristirahat' atau dalam bahasa Inggrisnya adalah 'Unrest'. 

Namun ada juga sumber lain yang mengatakan bahwa nama Onrust tersebut diambil dari nama penghuni pulau yang juga masih keturunan bangsawan Belanda, yaitu Baas Onrust Cornelis van der Walck.

Di Pulau Onrust, saya bertemu dengan Ridwan Saide, salah seorang pemandu wisata di Taman Arkeologi Onrust, Kepulauan Seribu.


Kami bercengkrama sebentar. Saya menebak suku pemandu wisata itu dan tebakan saya ternyata benar.Ia bertanya bagaimana saya mengetahui sukunya.


Saya menjelaskan bahwa saya mengenalinya dari nama ayahnya. “Saide” adalah bentuk pemanggilan khas Bugis dari nama “Said”.

Percakapan singkat itu membuat suasana cepat akrab. Apalagi setelah mengetahui saya berasal dari Sulawesi Selatan yang dihuni masyarakat suku Bugis dan Makassar.

Ridwan kemudian mengajak saya melihat lebih dekat sejumlah peninggalan arkeologi di museum pulau tersebut. Pria yang gemar memakai topi rimba itu banyak bercerita tentang sejarah Pulau Onrust.

Setelah itu, ia juga mengajak saya menuju kompleks pemakaman tua di pulau tersebut. Di sana terdapat makam Maria van de Veldes Lijk. Di nisannya terpahat penggalan puisi berbahasa Belanda.

Ridwan kemudian menunjukkan penggalan puisi berbahasa Belanda yang terpahat di batu nisan itu. Tulisan tersebut berisi ungkapan duka atas kematian Maria.

“Mayatnya terkubur
Walaupun dia pantas hidup
Bertahun-tahun lamanya
Seandainya Tuhan
Berkenan demikian
Namun, rupanya Jehova menghalangi itu dengan kematiannya
Maria hilang, Maria tiada lagi.”

Begitulah penggalan puisi itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Di Pulau Onrust, saya juga bertemu Amir (71), penjaga pulau yang tengah sibuk melayani pembeli di warung kecil miliknya.

Pria Bugis itu merupakan generasi kedua penjaga Pulau Onrust. Pekerjaan itu sebelumnya dijalani sang ayah, Ambo Asse.

Amir lalu mengenang suasana pulau pada 1987. Saat itu, perburuan harta karun marak terjadi di Onrust yang masih dipenuhi semak belukar dan rerumputan liar.

“Suara linggis beradu dengan batu terdengar jelas malam itu,” kenangnya.

Dalam gelap, Amir berjalan menuju sumber suara di salah satu sudut pulau. Betapa terkejutnya ia saat mendapati tiga orang tengah menggali tanah untuk mencari harta karun.

Amir kemudian bercerita tentang ayahnya yang berasal dari Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. 

Sebelum menetap di Pulau Onrust, Ambo Asse sempat tinggal di Makassar, lalu merantau ke Bangka Belitung dan Pulau Untung Jawa.

“Delapan bulan di Bangka Belitung, bapak pindah ke Pulau Untung Jawa. Tahun 1973 beliau mulai menetap di Onrust,” ujarnya.


Penulis blog

EA
EA
SEO & Blogger Enthusiast

Tidak ada komentar

Berkomentarlah dengan bijak dan sopan. Bila Anda ingin memberikan saran, kritik, dan masukan yang membangun, dengan senang hati Kami persilakan. Terima Kasih.